Bolos Sama Dengan Repot

Dulu saya pikir, cari kerja itu susah. Tapi ternyata, NGASIH KERJAAN itu ngga gampang juga. Apalagi kalo yang minta kerjaan itu orang banyak.

Jadi ceritanya, masa perpindahan semester ini adalah masa-masa mahasiswa mengganti kompensasi jam ketidakhadiran (alfa) selama satu semester, atau disebut dengan KOMPEN. Peraturan kompen ini memang sudah budaya di Polinema tempat saya mengajar. Kompen dihitung per-jam tidak hadir, dan diganti dengan bekerja. Ya, kerja. Kerja apa? Apapun. Mahasiswa wajib meminta kompen kepada seorang dosen, siapapun dosennya, dan dosen berhak memberi pekerjaan sesuai dengan jumlah jam ketidakhadiran mahasiswa bersangkutan. Pekerjaannya bisa mulai dari potong rumput, bersihin lab, sampai ngosek WC dan sebagainya.

Tujuan awal dari kompen ini adalah untuk memberikan efek “jera” kepada mahasiswa agar tidak seenaknya sendiri memanfaatkan kelonggaran jam alfa. Dengan kata lain, biar ga seenaknya bolos. Namun lama kelamaan kompen dapat digantikan berupa barang, seperti buku, peralatan lab, atau bahkan uang. Nah disinilah kelemahannya.

Mahasiswa dapat mengganti jam kerja kompen dengan uang atau barang senilai jam kompennya. Saya kurang tahu pasti berapa rupiah per-jam nya. Yang mengganggu pikiran saya, jika mahasiswa boleh BAYAR untuk mengganti kompen, uangnya SIAPA yang dipakai buat bayar?

Hampir dapat dipastikan, uang orang tuanya bukan? Biarpun uang jajan, tapi itukan dari ortunya juga. Dengan kata lain, mahasiswa yang bolos, ortunya yang disuruh bayar. Saya rasa kurang adil kalo kaya gitu caranya.

Oleh karena itu, tiap mahasiswa yang minta kompen ke saya, ngga pernah saya suruh ganti pake uang. Pasti saya kasih pekerjaan. Meskipun akhirnya saya sendiri yang kewalahan kehabisan kerjaan. Pernah saya khilaf. Ada mahasiswi minta kompen 2 jam. Karena udah bener2 ga ada pekerjaan, saya tanya, bisa masak? Bisa pak. Bikin kue bisa? Insyaallah bisa pak. Yaudah, bikinin pancake buat kita ya, dosen di ruangan ini aja.

Eh beneran, dua hari lagi dia balik bawa satu nampan panekuk. Agak beda sih dari request, tapi gapapa lah hahaha. Cuman saya mikir lagi, bikin kue, bahannya dari mana? Minta ortu juga buat beliin pastinya.

Nah loh, kompen, mahasiswa repot, dosen juga repot. Makanya, jangan bolos lagi yah adik2 mahasiswa sekalian🙂

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , , ,
Posted in Catatan Kecil
12 comments on “Bolos Sama Dengan Repot
  1. winnymarch says:

    kalau bolos suruh buat artikel aja pak ahaha

  2. Bang Cup(uh) says:

    aku ra tau bolosan pak, neng nilaiku ra tau apik. hahhaha.

    main-main ke sini ya Pak:

    http://notedcupu.com/

  3. Jati Solomon says:

    Cara berfikir seperti ini sudah langka Pak. Maju terus dunia pendidikan. Salam kenal

  4. Oo..ada kompen macam gitu ya ? Rasanya di jamanku kok nggak ada ya.. Tapi rasanya jugadulu aku rajin kuliah ah.. he he

  5. Hahah.. disuruh masak, tatap aja ujung-ujung nya ngeluarin duit ya… hehehe

  6. tayuza says:

    Benar – benar sesuai judulnya, situ yang situ juga yang repot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: