Buku terjemahan dan jendela yang buram

Buku terjemahan? Sudah pasti semua orang tahu. Mulai dari novel, referensi, ensiklopedia, majalah, sampai resep masak, banyak yang berasal dari luar negeri dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Usaha penerbit untuk menerjemahkan buku-buku tersebut patut diacungi jempol, karena dengan begitu kita bisa menikmati buku-buku hebat tanpa harus belajar dulu bahasa asing sebagai pengantarnya. Bayangkan kalau hanya untuk mempelajari buku hasil karya penulis dari Jerman kita harus belajar dulu bahasa Jerman. Entah berapa tahun kemudian baru kita bisa membacanya dengan pemahaman yang entah sudah benar atau belum.

Namun kadang hasil terjemahan buku itu tidak selalu pas juga. Khususnya buku2 referensi, buku penunjang kuliah, atau buku yang bersifat teknis. Ketika masih awal-awal kuliah dulu saya sering berburu buku komputer sebagai pelengkap bacaan. Ada satu penerbit buku komputer yang cukup ternama di Indonesia ini yang banyak mengeluarkan buku terjemahan. Bebarapa buku sempat saya beli, kebanyakan terjemahan dari bahasa Inggris, karena memang versi aslinya sangat langka dan kalaupun ada cukup mahal harganya.

Pada saat membaca halaman-halaman awal buku-buku terjemahan itu saya cukup puas dengan apa yang saya dapatkan. Namun ketika sudah masuk ke bab yang lebih detail, dan semakin banyak informasi yang ingin saya dapatkan dari buku tersebut, rasanya saya semakin “tersesat”. Semakin sulit memahami apa yang disampaikan oleh sang penulis, err…sang penerjemah. Sudah coba baca berkali-kali tetap saja tidak paham. Apa memang otak saya yang sudah ngga mampu memproses materi yang berat-berat ya?

Kemudian suatu ketika ada seorang teman yang punya buku versi bahasa asli (bahasa Inggris) dari buku terjemahan yang pernah saya baca. Iseng-iseng saya buka bab yang susah saya mengerti. Ternyata setelah saya baca-baca, rasanya kok malah lebih gampang dipahami ya. Saya baca lagi bab berikutnya dan berikutnya, akhirnya saya bisa mengerti apa yang dimaksud penulis yang sebelumnya tidak bisa saya pahami sedikitpun saat membaca versi terjemahannya. Baru kemudian saya sadar, ternyata banyak istilah-istilah dan pembahasan teknis yang kurang cocok terjemahannya, sehingga maksud dan artinya jadi melenceng dari yang sebenarnya. Sayapun coba cari lagi pakai Google Books, versi asli buku-buku terjemahan yang saya beli dari penerbit tersebut dan mendapatkan kesimpulan yang sama, buku dalam bahasa aslinya lebih mudah dipahami.

Dari situ saya jadi berpikir, penerbit asal saja menerjemahkan buku-buku itu tanpa mengoreksi kebenarannya. Menerjemahkan buku, terutama buku teknis, sepertinya memang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Tidak cukup orang yang mahir bahasanya, namun juga harus benar-benar memahami bidang yang dibahas dalam buku tersebut. Karena ya itu tadi, banyak pembahasan teknis yang tidak bisa asal diterjemahkan. Apalagi banyak istilah yang sebaiknya dibiarkan tetap dalam bahasa aslinya karena memang sulit mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Seperti misalnya, istilah “pipelining” dalam teknik penulisan perintah di sistem operasi Linux, diartikan sebagai “saluran pipa”. Hei, ini buku komputer, bukan buku tentang pengairan.

Begitulah, tiap jalan-jalan ke toko buku, sekedar melihat-lihat meski tidak beli (entah kenapa melihat rak-rak berisi begitu banyak buku rasanya bisa menenangkan hati saya hehe…) masih banyak dijumpai buku terjemahan dari penerbit yang satu ini, yang masih sulit dipahami. Kasihan orang-orang yang beli, uang mereka dibelanjakan untuk sebuah buku yang tidak bisa dibaca. Seharusnya penerbit lebih memperhatikan lagi kualitas terjemahannya, mempekerjakan penerjemah yang paham bidangnya. Tidak sekedar ambil untung dari buku-buku yang mereka jual. Meski covernya bagus, kertasnya bermutu, tapi untuk apa kalau tidak bisa dipahami isinya, ya to? Buku adalah jendela ilmu. Nah kalau jendelanya buram, bagaimana bisa “menikmati” pemandangan yang ada dibaliknya?

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , , ,
Posted in Sekitar Kita
10 comments on “Buku terjemahan dan jendela yang buram
  1. baguštejo says:

    ouw gitu yaa… baru nggeh kalo banyak penerbit yang menerjemahkan secara ngasal. saya lebih suka baca modul perkuliahan yang berbahasa inggris. bukan apa², toh bahasa inggris saya juga pas²an, tapi lebih mudah ditangkap dan dicerna oleh otak.
    khusus bahasa engineer, memang mempunyai arti tersendiri. tidak bisa diartikan perkata. misal yang saya temui istilah di teknik lingkungan, ‘head loss’ mungkin bagi orang awam diartikan sebagai kehilangan kepala. namun di teknik diartikan sebagai kehilangan tekanan.🙂

  2. rismanto says:

    baguštejo : ya gitu deh mas, memprihatinkan. saya juga kalo bisa dapet versi bahasa inggrisnya lebih suka baca yang aslinya.

  3. choirul says:

    aku juga susah memahami buku terjemahan, soale kadang bahasanya g nyambung

  4. andinoeg says:

    memang susah juga sich, apa lagi buat yang gak bisa bhs inggris kayak saya😀

  5. vany says:

    saia lbh suka baca novel brbhasa ing (versi aslinya) drpd versi terjemahannya, mas…
    soalnya lbh terasa ‘feel’-nya…hehehe

    kalo buku kuliah siyh mau gak mau ya saia hrs mau baca versi inggrisnya scr jrg bgt versi indonesianya dan ujiannya jg kbnyakan bhs ing semuanya mski kdg2 males bgt baca tulisannya yg kecil2, bikin sakit mata, dan bikin pusing kepala….hahaha

    bicara ttg terjemahan, menerjemahkan itu memang bag yg pling susah dbnding kita menulis atau ngomong dlm bhs ing…
    kdg2 kan buku2 itu gak pake bhs ing murni, tapi ada bhs ing komp, bhs ing teknik, bhs ing hukm, atau lainnya….
    jadi, yah harap maklum kalo buku terjemahan itu suka ngawur bahasanya….😉

    btw, saia sdh add ym-nya lowh, mas…..😀

  6. rismanto says:

    @ andinoeg : sebenernya ngga susah, cuman butuh niat yang kuat dari sang penerbit

    @ vany : yap betul. paling enak memang baca versi bahasa aslinya (inggris). tapi kalo penulisnya pake bahasa selain inggris, ya repot juga wkwkwkwk. oke, ym nya sudah di confirm. tapi kok belum pernah ketemu onlen ya😀

  7. Asop says:

    Benar, benar sekali, saya juga punya pengalaman seperti Mas Ris.
    Saya gak suka baca buku teks kuliah terjemahan. Dulu, saya pernah juga coba baca buku terjemahan, ternyata bahasanya aneh, seperti kaku gitu, dan banyak istilah yang gak seperti “bahasa indonesia asli”. Ternyata, memang seperti kata Mas Ris, banyak ungkapan dalam bahasa Inggris yang diartikan secara langsung ke bahasa Indonesia. Jadinya, seperti diterjemahkan oleh orang yang tidak pada bidangnya. Orang sipil disuruh menerjemahkan buku kedokteran, ato orang astronomi disuruh menerjemahkan buku orang teknik pertambangan.😀
    Tapi, kalo novel, saya tetep suka terjemehan…🙂
    Coba ya kita meniru Jepang. Katanya, di sana itu orang suka baca, pas di bus, di kereta, pas nunggu seseorang. Yang mereka baca itu adalah buku terjemahan, dan ternyata memang di Jepang saya proses penerjemahan buku itu cepat sekali. Jadi katanya hampir semua judul buku asing itu ada terjemahannya di sana.🙂 Luar biasa….

    *meskipun saya gak tahu gimana kualitasnya*

  8. Rismanto says:

    @ Asop : wah kalo mau niru Jepang sih masih jauh Indonesia…budaya cinta baca-nya masih tertinggal jauh. tapi ya sebenernya efek melingkar juga. kalau banyak terjemahan yang bermutu, bisa meningkatkan minat baca. tapi gimana bisa banyak terjemahan bermutu kalau minat bacanya masih rendah. nah, harus dimulai dari mana dulu nih😀

  9. yulia says:

    Mas Ris, artikelnya bagus2 dan bernas🙂 Boleh ga saya minta tolong…Mohon info judul buku dan penerbitnya. Saya sedang studi mencari terjemahan buku komputer yang banyak kesalahannya. Untuk contoh modul penyuntingan. Mohon ya Mas. Sebelumnya, terima kasih atas bantuannya.🙂

  10. rismanto says:

    boleh2 monggo kita discuss, sudah cek FB kan ya. sip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: