Skripsi, Sanggahan Itu Perlu

1246842

Dari beberapa pengalaman saya menguji skripsi, ada satu pola pikir yang salah dan turun temurun diantara para mahasiswa. Yaitu: Nurutlah pada apa kata penguji.

Berkat pola pikir itu, mahasiswa manggut-manggut dan iya-iya aja ketika penguji mengajukan pertanyaan, kritik, atau bahkan revisi. Padahal, ngga semua yang dikatakan penguji itu benar! Penguji juga manusia, bisa salah, bisa khilaf, bisa gagal paham.

Mahasiswa cenderung takut ngga lulus jika menyanggah perkataan penguji. Takut dianggap ngotot, bebal, dan kurang ajar atau sok tau. Padahal mahasiswa sangat amat berhak sekali untuk menyanggah, jika memang yang dilakukan itu benar.

Selain ketakutan tidak lulus, ketidakpahaman mahasiswa terhadap perkataan atau pertanyaan penguji juga jadi faktor kenapa mereka manggut-manggut dan iya-iya. Makanya, pahami betul apa sih maksud dari penguji. Kadang penguji tanya karena memang ngga ngerti. Kadang juga pertanyaan penguji menyimpang jauh dari topik. Kalo udah gitu ya harus buru2 digiring ke topik semula biar ga keterusan yang akhirnya menggagalkan ujian itu sendiri karena mahasiswa dan penguji sama-sama gagal paham.

Nah buat adik-adik sekalian yang lagi mau skripsi, kuasai betul bidang yang kamu kerjakan. Boleh-boleh aja pekerjaan itu dibantu orang lain, tapi pahami betul, pelajari topiknya dan topik2 yang berkaitan. Jika memang kamu merasa benar dan penguji mulai out of topic, sanggahlah! Jangan takut ngga lulus! Tapi INGAT, lakukan dengan sopan dan bahasa yang merendah, jangan angkuh, jangan dengan nada bicara yang tinggi. Merendah, tapi tetap tegas, percaya diri dan dengan gesture yang meyakinkan.

Gesture yang meyakinkan ntu yang kaya gimana? Ya jangan ragu-ragu kalo bicara, harus tegas! Gimana caranya biar bisa kaya gitu? Ya kuasai materi. Gimana biar bisa nguasai materi? Ya belajar! Jangan maen aja, jangan internetan aja, jangan blogging aja, udah stop baca tulisan ini, kembali ke skripsi!๐Ÿ˜€

Tagged with: , , ,
Posted in Sekitar Kita

Ice Cream Cup

Gatau kenapa suka aja ama ice cream cup, dibanding yang lain-lain macam Magnum ato Cornetto.

IMG-20150719-WA0017

Kayanya gimanapun, es krim model inilah yang bisa dinikmati secara maksimal, biarpun cuma beli di kulkas di minimarket. Coba liat es krim yang dijual di cafe atau tempat spesialis es krim, bentuknya kaya gini juga kan.

Es krim model tusuk macam Magnum, kekurangannya ga bisa gigit banyak. Kalo banyak bisa nyakitin gigi, buat orang kaya saya yg punya gigi sensitif.

Es krim model Cornetto, ga seger. Mana ada kacangnya lagi. Kacang mete enak kalo digado, bukan dicampur es krim. Menurut saya sih.

Foto diatas diambil saat mudik di Jogja, di siang yang terik, beberapa hari setelah lebaran, menikmati angin semilir sambil bermalas-malasan klesotan di karpet teras rumah.

Tagged with: , ,
Posted in Catatan Kecil

Bolos Sama Dengan Repot

Dulu saya pikir, cari kerja itu susah. Tapi ternyata, NGASIH KERJAAN itu ngga gampang juga. Apalagi kalo yang minta kerjaan itu orang banyak.

Jadi ceritanya, masa perpindahan semester ini adalah masa-masa mahasiswa mengganti kompensasi jam ketidakhadiran (alfa) selama satu semester, atau disebut dengan KOMPEN. Peraturan kompen ini memang sudah budaya di Polinema tempat saya mengajar. Kompen dihitung per-jam tidak hadir, dan diganti dengan bekerja. Ya, kerja. Kerja apa? Apapun. Mahasiswa wajib meminta kompen kepada seorang dosen, siapapun dosennya, dan dosen berhak memberi pekerjaan sesuai dengan jumlah jam ketidakhadiran mahasiswa bersangkutan. Pekerjaannya bisa mulai dari potong rumput, bersihin lab, sampai ngosek WC dan sebagainya.

Tujuan awal dari kompen ini adalah untuk memberikan efek “jera” kepada mahasiswa agar tidak seenaknya sendiri memanfaatkan kelonggaran jam alfa. Dengan kata lain, biar ga seenaknya bolos. Namun lama kelamaan kompen dapat digantikan berupa barang, seperti buku, peralatan lab, atau bahkan uang. Nah disinilah kelemahannya.

Mahasiswa dapat mengganti jam kerja kompen dengan uang atau barang senilai jam kompennya. Saya kurang tahu pasti berapa rupiah per-jam nya. Yang mengganggu pikiran saya, jika mahasiswa boleh BAYAR untuk mengganti kompen, uangnya SIAPA yang dipakai buat bayar?

Hampir dapat dipastikan, uang orang tuanya bukan? Biarpun uang jajan, tapi itukan dari ortunya juga. Dengan kata lain, mahasiswa yang bolos, ortunya yang disuruh bayar. Saya rasa kurang adil kalo kaya gitu caranya.

Oleh karena itu, tiap mahasiswa yang minta kompen ke saya, ngga pernah saya suruh ganti pake uang. Pasti saya kasih pekerjaan. Meskipun akhirnya saya sendiri yang kewalahan kehabisan kerjaan. Pernah saya khilaf. Ada mahasiswi minta kompen 2 jam. Karena udah bener2 ga ada pekerjaan, saya tanya, bisa masak? Bisa pak. Bikin kue bisa? Insyaallah bisa pak. Yaudah, bikinin pancake buat kita ya, dosen di ruangan ini aja.

Eh beneran, dua hari lagi dia balik bawa satu nampan panekuk. Agak beda sih dari request, tapi gapapa lah hahaha. Cuman saya mikir lagi, bikin kue, bahannya dari mana? Minta ortu juga buat beliin pastinya.

Nah loh, kompen, mahasiswa repot, dosen juga repot. Makanya, jangan bolos lagi yah adik2 mahasiswa sekalian๐Ÿ™‚

Tagged with: , , ,
Posted in Catatan Kecil

Hari Yang Melelahkan Setelah Lebaran

57499367

Hari-hari paling melelahkan adalah seminggu setelah lebaran. Setelah sebulan puasa dan berkumpul dengan keluarga saat lebaran, tibalah saatnya semuanya kembali “NORMAL”. Well. Tidak sepenuhnya normal. Here’s why:

1. Sindrom liburan. Setelah libur beberapa hari, musuh terbesar untuk pergi ke kantor adalah menyesuaikan ritme liburan dengan pekerjaan. Gimana gak musuh terbesar, biasanya jam 7 pagi masih bisa gulung2 di kasur sambil selimutan, sekarang harus cepet2 mandi, setrika baju, siap2 ngantor. Belum lagi kerjaan yang numpuk setelah ditinggal liburan.

2. Masih banyak yang tutup. Sementara ritual harian sudah harus kembali normal, “fasilitas pendukung kehidupan” masih belum memadai. Warung dan kantin masih banyak yang tutup!! Warung langganan juga masih tutup. Trus, makan siang dimana nih?

3. Jalanan macet dikarenakan arus balik dan orang yang masih liburan. Malang emang jadi kota apes. Jangankan liburan, tiap weekend aja jalanan macetnya minta ampun dipenuhi para “imigran” dari kota sebelah, SURABAYA. Padahal orang-orang itu pada wisatanya ke Batu. Tapi apa boleh buat, kalo dari Surabaya mau ke Batu ya pastinya lewat Malang, akhirnya numpuk bikin macet. Duh!

4. Harus menyalami tiap orang yang ditemui di kantor. Tujuannya mulia, maaf-maafan. Tapi capek juga kalo salam2an ngga brenti2๐Ÿ˜€ Belum lagi kalo orangnya pikun kaya saya, kadang lupa udah salaman sama orang itu belom ya๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Itu sih yang kebetulan lagi kepikiran. Selebihnya, dinikmati aja. Setidaknya karena kampus masih libur, maka ngga ada rutinitas ngajar. Masih bisa jalan2 di hari aktif๐Ÿ˜€

Tagged with: , , ,
Posted in Catatan Kecil, Sekitar Kita

Grup Hiperaktif

Yang paling nguras baterai dan memory henfon tahun ini: WHATSAPP GROUP!!

Entah ada angin dan petir apa, lebaran tahun ini jadi momen bermunculannya group-group reunian di Whatsapp. Awalnya grup temen-temen kuliah seangkatan. Disusul grup SMP kelas 3. Kemudian grup SMA seangkatan. Dari SMA seangkatan ini pecah grup sendiri jadi grup SMA kelas 3 IPA. Dari sekian grup, yang paling banyak anggotanya adalah grup SMA seangkatan, 100 orang!! Itupun sebenernya masih mau nambah lagi, apa boleh buat, batas maksimal member grup “cuma” 100 orang saja.

Namanya lama gak ketemu mungkin ya, grup itu semuanya HIPERAKTIF. Screenshot ini saya ambil setelah mendiamkan Whatsapp selama kurang lebih satu-dua jam.

Screenshot_2015-07-26-09-01-51

Grup hiperaktif

Dan ini adalah top grup paling hiperaktif, 1500 chat, dari sore habis magrib sampai pagi!! Ini yang sempet saya scrennshot. Kalo ngga salah pernah mencapai 1700-an chat dalam waktu setengah hari:

Screenshot_2015-07-27-06-22-09

๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Kalo udah kaya gini ya paling cuma dibuka aja buat sekedar ngilangin notif๐Ÿ˜€

Dan untungnya ada fasilitas silent grup di Whatsapp.

Tagged with: , , ,
Posted in Komunitas, Sekitar Kita

Lihatlah Apa Yang Disampaikan

Aneh ya jalan pikiran sebagian manusia itu.

Ketika seseorang sudah kadung dicap melakukan perbuatan yang konyol, maka selamanya semua perbuatannya akan terlihat buruk, serba salah, negatif. Sebaik apapun perbuatan yang dilakukannya setelah itu.

Padahal perbuatan itu sejatinya tidak bermaksud buruk. Malah bisa dibilang baik. Hanya caranya yang sedikit ekstrim.

Namun sebagian manusia tidak siap menghadapi cara-cara ekstrim yang membutuhkan pemikiran yang kritis, pemikiran yang arif, yang bersedia memandang sesuatu secara utuh, tidak sepotong-sepotong. Sebagian manusia terlalu mudah terbawa emosi, hingga malas menelisik asal usul terjadinya sesuatu, ogah mempertimbangkan makna tersirat yang terkandung didalamnya.

Sebagian manusia sudah begitu teracuni pemikirannya dengan ke-instan-an media informasi, hingga malas membaca atau mendengarkan hingga tuntas suatu seruan, suatu tulisan, alih-alih memahami maknanya. Sebagian manusia lebih memilih menjelek-jelekkan seseorang berdasarkan opini kebanyakan, lebih memilih hanyut dibawa arus tanpa sedikitpun ingin tahu sumber muaranya.

Dan mata hati mereka sudah dibutakan oleh “opini kebanyakan”, hingga, diberi tahu sumber muaranya pun mereka tidak akan mampu melihatnya.

Akhirnya, sebagian manusia akan tetap mencaci sebuah seruan, sekalipun isinya sangat baik, jika sumbernya adalah seseorang yang dimata mereka sudah terlanjur buruk.

Bukankah Nabi Muhammad SAW mengajarkan, lihatlah APA yang disampaikan, bukan SIAPA yang menyampaikan?

Tagged with: ,
Posted in Catatan Kecil, Sekitar Kita

Si Elek Yang Njemblung

11027443_10206962039155630_1536868677948347732_n

Si kucing udah mulai njemblung perutnya. Puting-puting susunya keliatan menonjol. Kelakuannya jadi lebih kalem, jadi hobi tidur. Hamil ngga ya? Kita liat aja 2 bulan lagi, kalo keluar anak ya berarti hamil๐Ÿ˜€ Read more ›

Tagged with: ,
Posted in Kucing
Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com