Salah Kaprah Teknologi Informasi di Sekolah

http://regex.info/blog/2008-07-03/856

Sekolah sekarang ini udah beda banget dengan jaman sekitar 5-10 tahun yg lalu. Masih ingat ngga dengan papan tulis, kapur, penghapus yang berdebu dan penggaris kayu yg pinggirnya boncel2 keseringan dipukulkan ke meja? Sekarang kita udah jarang liat yg kaya gitu lagi. Semua ini gara2 Teknologi Informasi.

Indonesia saat ini lagi dirundung demam teknologi informasi atau biasa dikenal dengan ai si ti, atau ICT (Information and Communication Technology). Semua dikomputerisasi, diinternetisasi dan di sasi-sasi yg lain. Maka tak heran kalau sekolah pun jadi korban ai-si-ti-sasi juga.

Sekarang guru menjelaskan pakai LCD proyektor. Murid dikasih tugas juga berupa ketikan pakai komputer dimana praktek copas atau copy paste dari mbah google sudah pasti tak terelakkan lagi. Apa efeknya? Murid jadi malas dan menggampangkan.

Itu semua belum termasuk smartphone alias telepon genggam selebar baki yang memudahkan kegiatan kerpek mengerpek dan contek mencontek.

Tujuan awal meng-ICT-kan pendidikan di sekolah memang sungguh luar biasa mulia. Yaitu mencetak generasi muda yg ngga gaptek dan mampu memanfaatkan ICT untuk mendukung proses pembelajaran. Tapi coba tengok efeknya. Materi yg disampaikan lewat proyektor misalnya, malah mengurangi unsur interaktif antara guru dengan murid.

Tidak ada lagi unsur teka-teki dan excitement ketika guru menjelaskan rumus matematika dengan contoh soal dan memperlihatkan langkah penyelesaiannya secara live. Karena semua sudah tampil secara instan di slide show.

Murid pun jadi terbiasa dengan sesuatu yg instan. Mereka pikir, tidak perlu lagi belajar toh semua udah ada di google. Ga perlu lagi mencatat penjelasan guru karena materi bisa di copy. Diperparah dengan syarat lulus sekolah cuma berdasarkan nilai ujian nasional. Tambah bobrok lagi, sms kunci jawaban sudah hampir pasti beredar menjelang ujian. Nah trus buat apa belajar kalo kaya gitu?

Padahal di Jepang yang negaranya maju ju ju, sekolah masih pakai kapur dan papan tulis. Pakai komputer kalau di lab aja dan urusan administrasi.

Namun di sisi lain, guru pun dilema. Mereka dituntut ini itu yg intinya harus melibatkan ICT dalam proses belajar mengajar, atau kalau tidak maka sekolahannya dianggap ketinggalan teknologi. Byuh. Akhirnya terpaksalah model pembelajaran yang mendidik murid jadi malas itu terlaksana.

Hasilnya? Miris. Seorang mahasiswa politeknik jurusan elektronika mengerjakan soal hitungan 1 + 3 x 2 = 8.

Penggunaan ICT di sekolah, khususnya di kelas memang ide yang bagus. Dalam kondisi tertentu bisa membantu penyampaian materi dan mempermudah siswa untuk memahami materi pelajaran. Namun bukan berarti harus diterapkan secara mutlak. Selain itu ICT sebaiknya jangan dijadikan tolok ukur kemajuan suatu sekolah. Kembali lagi, tidak semua aspek dalam kehidupan ini dapat di-ICT-kan, di-komputer-kan dan di-internet-kan.

Hehehe...kalo bu gurunya cute kaya gini mah ga perlu proyektor lagi. copyright: Shuttershock

Hehehe…kalo bu gurunya cute kaya gini mah ga perlu proyektor lagi.
copyright: Shuttershock

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , ,
Posted in Sekitar Kita, Teknologi
21 comments on “Salah Kaprah Teknologi Informasi di Sekolah
  1. Dyah Sujiati says:

    Gurunya lebih kece kalau itu … *lupakan.

    Mau komen terkait pendidikan kuatir kepanjangan. Haha.

    1 x 3 + 2 = 8, raposo :p

  2. Dyah Sujiati says:

    Ralat : rapopo bukan raposo:mrgreen:

  3. Ranger Kimi says:

    Kalau ada dosen yang ngajarnya cuma baca dari slide ya aku ngantuk sih. Gak interaktif. Gak menarik. Kecuali slide-nya dibikin sedemikian rupa dan dosen menjelaskannya tidak dengan membaca. Itu baru menarik.

    Aku pernah lihat keponakanku yang masih SMP/SMA mengerjakan tugas dengan meng-copypaste artikel di internet tanpa menyebutkan sumber. Kan menyebalkan.😦

    • xrismantos says:

      Kalo kuliah sih tidak terlalu berpengaruh kali ya. Karena mahasiswa udah dianggap sebagai orang dewasa yang harusnya bisa mensikapi metode pengajaran dosen sesuai dengan situasi dan kondisi.

      Lain cerita di sekolah, dimana masih terjadi pembentukan karakter. Mau jadi apa nanti anak2nya kalau sejak sekolah udah biasa dimanja oleh copas mengcopas kaya gitu.

  4. aqied says:

    Main ke papua yuk. Ke skolah2 yg pke kapur.
    Aq dulu SD pke kapur, tp gak ad adegan A ling dan Ikal macam laskar pelangi
    *gak nyambung

    • xrismantos says:

      Sekolahku dulu juga pake kapur kok. Yang banyak adegan AADC alias ada apa dengan cinta wkwkwkwk…

      Kalo bicara tentang pemerataan pendidikan, itu bisa jadi topik tulisan tersendiri tuh…

  5. duniaely says:

    kmrn aku negur murid SMA yg copy artikelku tanpa nyebutin sumbernya, jawaban dia enteng bgt, krn cuma ngerjain tugas dr sekolahan, tugas kok copy ya ? bukannya dibikin sendiri ?🙄

  6. Baru tahu nih Mas kalau di Jepang kegiatan mengajar masih mengugunakan kapur dan papan tulis.
    Oh iya, wajah bu guru di foto itu lebih terang dari lampu proyektor ya Mas…😀

  7. giewahyudi says:

    Mau komentar serius, tiba-tiba salah fokus begitu lihat bu guru itu. Duh pengen sekolah lagi jadinya, hahaha

  8. fasyaulia says:

    Sebagai mantan sekretaris dikelas, dulu waktu SD juga nulis dipapan tulis pake kapur, tapi jadinya sebel soalnya tangan nya jadi panas. Pas masuk SMP dan SMA, nulisnya pake spidol terus enak nulisnya lembut gitu #halah
    Komen nya gak terlalu nyambung sama isi blog, #rapopo😛

  9. arip says:

    Jepang emang paling jago soal pengaturan mana yg harus tradisional mana yg harus dimodernitasi, ga sembarang ngeaplikasiin yg paling baru yg harus dipakai. Selain itu Jepang produsen ict, sementara Indonesia cuma konsumen.

  10. ira nuraini says:

    lama2 hasil sekolahnya ga perlu raport, nilainya tinggal cek via internet aja…🙂

  11. enha says:

    1 + 3 x 2 = 8.
    astaganaga, muridnya mulai lapar.
    sebagai dosen yg baik, beri dia popmie, sir. :v :v :v
    #korban iklan

  12. Saya mendukung ICT utk pendidikan. Dengan materi yang interaktif & animatif malah bisa mempermudah siswa memahami pelajaran.

    Di samping itu, dengan materi interaktif & animatif lebih mempercepat siswa belajar sehingga waktu yg tersisa bisa digunakan utk latihan soal.

    Salam

    • xrismantos says:

      Bener mas, penerapan ICT yang tepat bisa sangat membantu penyampaian materi. Tentunya dengan strategi yang tepat biar siswa semakin terdorong semangat belajarnya, dan bukan malah semakin malas (karena bisa co-pas).

  13. jaman semakin maju sampai belajar saja sekang menggunakannya layar proyektor bukan papan tulis yang menggunakan kapur atau sepidol lagi .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: