Badai di Pasir Berbisik

DSC_0358

Pengen nyicipin rasanya berada ditengah badai pasir? Ngga usah jauh-jauh ke gurun Arizona atau padang Mojave, pergilah ke gunung Bromo. Ada satu lokasi di lautan pasir di wilayah Bromo yang dilabeli oleh penduduk sekitar dengan nama “Pasir Berbisik”. Angin yang selalu bertiup kencang disana menyebabkan kabut pasir berkepanjangan yang mirip seperti badai pasir.

Tepatnya hari sabtu kemarin saya dengan rombongan dari Politeknik Negeri Malang, tempat saya ngajar, bertolak dari Malang menuju Bromo. Perjalanan seharusnya ditempuh sekitar tiga jam lewat jalur Probolinggo. Tapi karena macet di jalur Pasuruan-Probolinggo, jam 23.00 dari Malang, sampai di lokasi pukul 02.30.

Seperti biasa, sesampainya disana kita harus ganti kendaraan jip dengan four-wheel-drive untuk bisa menjelajahi padang pasir menuju kawah Bromo. Jip yang kami kendarai adalah Toyoya Land Cruiser seri J40 yang terkenal dengan nama Hardtop. Pake mobil biasa bisa ngga? Bisa sih pokoknya siap2 dorong aja kalau rodanya kejebak pasir😀

Suhu udara saat itu berkisar dibawah 10 derajat Celcius, yang artinya adalah, SUPER DINGIN.

Sunrise yang so-so
Pukul 03.15 kami sudah naik jip menuju bukit Penanjakan untuk melihat sunrise. Not so special, karena awan mendung menutupi sebagian cakrawala sehingga sunrise tidak nampak utuh. Tapi ketika pagi sudah terang, view dari puncak Penanjakan cukup amazing, dengan puncak gunung Bromo nampak full-screen.

Kami dapat teman baru yaitu rombongan dari Makassar disini, foto-foto bareng bahkan tukeran pin BBM hahaha. Dua orang teman kami sempet juga bercengkerama dengan seorang cewek dari Jerman. Cuman saya ngga ikut-ikutan, soalnya lagi asyik menyantap pisang goreng dan kentang rebus sewaktu menunggu sunrise😀

Pukul 06.00 kita turun menuju kawah Bromo dengan jip. Yeaaahh!!

Kawah Bromo
Ngos-ngosan dari tempat perhentian jip di kaki kawah, kami naik ke kawah diiringi dengan ranjau-ranjau darat berbahan tai kuda. Eeewww… Ya, memang banyak kuda disewakan disini buat yang pengen nyicipin rasanya naik kuda sekaligus jalan ke area kawah.

Ada yang beda dengan beberapa belas tahun yang lalu ketika terakhir saya datang kesini, bau belerang tidak lagi menyengat.

Lagi-lagi kami dapat temen baru, namanya Sofia, asalnya dari China. Cuman yang satu ini ga sempet tukeran kontak. Too bad…😀 Foto masih ada di kamera SLR teman.

Padang Teletubbies
Turun dari kawah, kami menuju ke padang Teletubbies. Lagi-lagi istilah penduduk sekitar cuma gara-gara ada satu bukit yang hijau, mirip kaya taman bermainnya Teletubbies. Ngga tau apa itu teletubbies? Googling aja yah🙂 Rute dari kawah kesana adalah full off-road. Padang pasir non stop. Sampai disana kami foto-foto, nunggang kuda, bergembira ria, lari-larian, india-indiaan, haissshhh hahaha ngga lah kalo yang ini😀

Ngga banyak foto-foto disini soalnya kami asyik bercengkerama. Malah bukit Teletubbiesnya ngga kefoto😀

Padang Teletubbies nampak belakang

Padang Teletubbies nampak belakang

Pasir Berbisik
Puas jadi Teletubbies, kami lanjut ke Pasir Berbisik. Tempat “simulasi” badai pasir yang saya ceritakan tadi. Sama, rutenya masih full off-road.

Nah disinilah kita bisa merasakan, gimana rasanya bernafas dengan pasir, kucek-kucek mata karena dihinggapi pasir, dan buka mulut lebar-lebar untuk makan pasir. Angin bertiup kencang terus menerus yang membangkitkan badai pasir mini. Cuma di tempat ini, sepanjang mata melihat adalah pasir, tidak ada rumput sebatangpun apalagi pohon, apalagi bunga. Beruntung, ada “dua orang bunga” yang ikut dalam rombongan kami (baca: cewek)😀

Well, sensasi yang tidak pernah bisa kita rasakan di kota. Mandi pasir.

Time to go back home
Puas mandi pasir, rombongan bertolak kembali ke Lava View, villa tempat transit kami, untuk menikmati kudapan pagi yaitu kentang goreng, pisang goreng, taburan keju, dan kopi serta teh panas sambil membersihkan sisa2 pasir yang menempel. Luar biasa, ketika saya ayun-ayunkan jaket ke udara buat membersihkan debu, rasanya kaya lagi ngayunin keset. Banyak banget pasirnya😀

Nahhh, begitulah oleh-oleh jalan-jalan ke Bromo kemarin. Buat yang mau kesana, ngga rugi kok nyicipin badai pasirnya. Siap-siap masker aja, dan kalau bisa pakailah jaket berbahan parasit biar pasirnya ngga terlalu banyak yang nempel. Atau emang mau bawa oleh-oleh pasir Bromo?😀

Sok jadi yang punya jip

Sok jadi yang punya jip

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , , , ,
Posted in Catatan Kecil, Sekitar Kita
28 comments on “Badai di Pasir Berbisik
  1. Foto-fotonya indah banget Mas. Ah jadi pengen nih kapan-kapan kesana.
    Sementara dicukupkan dulu keinginan saya berkunjung kesana dgn menikmati.foto-foto yg ada di posting ini….

  2. Aiko says:

    Kerenn! Selalu pengen bertualang kayak gini. Persis kayak iklan rokok yang adventure2 gitu haha😀

  3. aqied says:

    Badai pasir? Maturnuwuuun. Saya habis kejebak badai pasir ditengah jalan ramai.
    Bromo nih masih bikin saya sedikit sakit hati. Jauh2 motoran smp sana kabut tebeel gak keliatan apa apa. Zonk banget lah. Boro2 sunrise. Bentuknya bromo aj gak keliatan.
    Besok2 saya harus kesana lagi, sebelumnya perhatiin segala ramalan cuaca update bmkg update pawang2 cuaca deesbe deelel.

  4. Kok bisa ya namanya teletubis gitu. Tentu ada nilai historisnya kah…

  5. bulan-bulan penuh dengan mendung di ufuk timur. juni-agusutus, bulan terbaik menyongsong sunrise.🙂

  6. capung2 says:

    wuihh.. sedap banget view-nya😀
    keren !

  7. Dyah Sujiati says:

    Akhirnya ke bromo juga. Nggak plenang-plening doank :p

  8. Hafian says:

    Ke Bromo, kok, gag mampir ke rumah, Kang😀. Kemarin (16 Februari), baru ada tour sepeda pancal ke Bromo, Kang. Melihat judul ini tadi, saya kira ikut rombongan tour😀, ternyata liburan pribadi. Hehe…

  9. saya belum ada kesempatan maen ke Jawa Timur… jarang yang ngajakin soalnya… dan Bromo memang sudah banyak yang ngasih cerita dan bikin iri pengen ke sana juga🙂

  10. ira nuraini says:

    sayang terakhir ke sana kemarin, ga sempet mampir ke bukit teletubies…gara2 nganter sepupu, ngidam prewed di sana..dan suami yg juga ngidam belum pernah ke bromo..biarpun lagi hamil 7 bulan, nekat juga berangkat ke bormo…*bnyk bener yg ngidam*🙂

  11. i-one says:

    aduh bang,keren sangat….
    ini lokasi syutingnya dian sastrowardoyo, ya?

  12. jampang says:

    ahhh…. belum pernah ke bromo😀

  13. rianti says:

    Kalau kesana kata guidenya lebih baik agustus-september mas.. kemarin saja saya baru kesana dgn dingin 5-7 derajat brrr dan pemandangannya bersih sekali alhamdulillahnya
    Btw, fotonya bagus2 mas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: