Game, Tipu Muslihat Iblis?

devil_may_cry_3_video_game_wallpaper-800x600

Kalau dulu, kita dengar kata “Game” pasti identik dengan permainan video game yang lucu-lucu, menghibur dan aman buat dikonsumsi segala usia. Sekarang masa itu udah lewat, game sekarang jadi industri tingkat tinggi yang sejajar dengan industri hiburan lainnya, seperti film, musik dan sebagainya. Game bukan lagi konsumsi anak-anak tapi juga dewasa. Cuman sayangnya banyak orang (khususnya orang Indonesia) yang masih ngga ngeh dengan pergantian masa tersebut.

Banyak orang tua yang membiarkan anak-anaknya main game yang peruntukannya untuk orang dewasa. Kemudian mereka mengutuk game-game tersebut dengan alasan merusak moral, sadis, melanggar norma, porno, ngga mendidik, berbahaya, mematikan, memabukkan, dan me-me-me yang lain. Mereka sebarkan itu di berbagai media, koar-koar dengan lantangnya bahwa game itu merusak masa depan anak bangsa.

Lantas kenapa film-film berkategori dewasa ngga mereka kutuk sekalian? Film Die Hard, Fast n Furious, Titanic, jelas BUKAN film buat anak-anak.

Ekstrimnya lagi nih, kenapa barang-barang seperti pisau dapur, kompor, mobil, motor, larutan asam sulfat, ngga mereka kutuk juga? Itukan juga bahaya kalau sampai dipegang anak-anak?

Intinya nih, semua hal yang ada di dunia ini sudah ada peruntukannya sendiri-sendiri. Begitu pula dengan GAME.

Game sekarang sudah ada lembaga kelas dunia, yaitu ESRB (Entertainment Software Rating Board), yang ngurusin rating peruntukan umur yang dibolehkan untuk mengkonsumsi sebuah game. Menurut ESRB, rating game dibedakan jadi beberapa kategori : Early Childhood, Everyone, Everyone 10+, Teen, Mature, Adults Only. Masing-masing rating sudah jelas peruntukan umurnya dan (seharusnya) tidak perlu diperdebatkan lagi, apalagi dikutuk.

Rating ESRB pun sudah pasti tercantum di game-game yang dijual di pasaran, biasanya tertulis di box CD/DVD-nya. Bahkan kalau gamenya dapet dari donwload (eitss ini aja udah ga boleh sebenernya😀 ), rating ESRB muncul di splash-screen tampilan pembukaannya. Orang tua yang smart seharusnya menyadari keberadaan label itu, maksud dari ratingnya, dan bukan cuma dianggap sebagai pajangan belaka. Dari situ seharusnya mereka bisa tentukan sikap, aman ngga nih buat dimainin anak-anak.

Rating ESRB bisa dilihat di box

Rating ESRB bisa dilihat di box

Barusan saya mendapati sebuah artikel yang berasal dari sebuah group Facebook yang bertemakan “Anakku Anak Berkarakter“. Disana dijabarkan bagaimana game begitu merusak moral anak dan bahkan dikatakan sebagai “tipu muslihat iblis”. Mereka bermaksud menyebarkan hal itu agar para penjual game tidak meraup keuntungan dari merusak otak anak-anak mereka. Kebetulan, game yang mereka kritik adalah Grand Theft Auto (GTA), yang ber-rating “M”, MATURE, yang artinya DEWASA…

Nah…siapa yang salah? Gamenya? Pembuatnya? Penjualnya? Atau…kenapa tidak kita salahkan saja diri kita sendiri yang kurang wawasan ini?

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , , , ,
Posted in Sekitar Kita, Teknologi
32 comments on “Game, Tipu Muslihat Iblis?
  1. jampang says:

    terlepas dari jenis gamenya…. jika main game melupakan kewajiban sebagai seorang hamba kepada penciptanya…. bisa jadi itu adalah tipu muslihat iblis😀

  2. Cahya says:

    Yuk, game itu ada yang dewasa, cuma kebetulan yang mereka tahu Mario Bross zaman mereka masih nongkrong di depan Nitendo. Zaman itu belum ada rating game, dan sekarang zaman sudah berubah, tapi orang ndak update pengetahuan mereka.

    • xrismantos says:

      Iya, orang kita sukanya mengkritik terus, tapi ga mau update pengetahuan terlebih dahulu.

      • Cahya says:

        Intinya pengawasan itu tidak “melek” terhadap perkembangan zaman.

        Dulu anak-anak main kuda-kudaan ndak masalah. Sekarang anak sekolah mainannya bukan kuda-kudaan lagi, tapi motor 150cc atau mobil MPV/SUV mahal, kalau itu kecelakaan, masa salah si anak. Sama-lah seperti game – IMHO.

        • xrismantos says:

          Nah akhirnya kembali lagi ke orang tuanya…tapi lingkungan juga kadang berpengaruh. Orang tua udah niat baik membatasi anaknya, tapi temen2nya pada kaya gitu semua akhirnya dia merengek minta. Pinter-pinternya orang tua akhirnya…

          Yah…semoga saya besok kalo jadi orang tua bisa jadi pengarah yang baik…

  3. lazione budy says:

    mainkan sesuai kreteria umur, seperti film semua sesuai batasan.

  4. Dyah Sujiati says:

    Yang kurang wawasan soal ESRB, nggak sepenuhnya salah.
    Emang ada gitu ‘sosialisi’nya yang bersifat umum dan mudah diakses semua orang?
    Realitanya nih, anak-anak yang main game bukan cuma anak dari orang-orang terpelajar -yang bisa ngerti ESRB- kan?
    Jadi, kalau menurutku, yang salah ya yang jual sembarangan (apalagi dari hasil membajak). Seharusnya dia yang paham ERSB dan memahamkan pembelinya. Syukur-syukur mau selektif pada pembeli.
    Nah, saya tugaskan dirimu untuk memahamkan ke penjual-penjual itu yach! Selamat bertugas!!! :p

  5. Nah, baru tahu saya ternyata game pun ada ratingnya….
    Makasih Mas informasinya.

  6. nuel says:

    Hahaha.. Hal yang sama juga berlaku untuk komik. Nggak heran dulu Great Teacher Onizuka pernah diprotes waktu awal terbit di Indonesia. Padahal di negara asalnya, komiknya memang untuk dewasa.

    Mungkin game atau komik itu identik dengan dunia anak-anak. Makanya ketika ada yang bernuansa dewasa, protes deh, tanpa mau cari tahu sendiri apa masalahnya. Dari aku kecil, sudah tahu kok ada simbol-simbol usia begitu. Kenapa coba nggak ditanya ke penjualnya?😀

    • xrismantos says:

      Hahahah iya komik macam GTO, Love Hina, dll pada diprotes. Ya itulah karena awalnya game, komik dulu berangkatnya dari hiburan buat anak2.

      Penjualnya sendiri kayanya ngga mau tau deh, orang dia jual bajakan, asal jual aja dia mah, barang laku, dapet untung, selesai urusan. Kecuali penjual resmi yang jualan game asli.

  7. mitawakal says:

    Mantap masbro ulasannya,, Emang video game punya rating khusus dan gam semua cocok untuk anak-anak. Oia, sekadar promosi (hehehe) di Indonesia juga sekarang udah ada lo rating lokal untuk video game. Dikelolanya oleh komunitas pula, bisa di cek di http://www.nxgindonesia.org (hohohohoho)

    Salam kenal juga dari Bandung..
    mampir2 ya..

  8. Aiko says:

    Menurut saya sih orang tua juga harus aware sama teknologi jaman sekarang biar ngerti tindakan yang tepat apa😀 btw salam kenal. Makasi udah mampir ke blog saya dan di add juga

  9. aqied says:

    gawat nih tar kalo aku ud jadi emak emak (kapaan ya) mau gak mau harus ngerti game n update gak boleh kudet deh ya

  10. duniaely says:

    kl masalah game aku paling blom ngeh deh, soalnya bukan penggemar sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: