Perlukah, Ospek dengan metode bentak-bentak dan bawa barang-barang aneh?

Masa-masa Ospek mungkin masih lama semenjak tulisan ini dibuat, tapi tiba-tiba saya kepikiran tentang ini sehabis ngobrol sama temen-temen dosen tadi siang. Kasihan juga kalau liat nasib para mahasiswa baru yang harus beribet-ribet ria demi mengikuti yang namanya ritual bernama Ospek ini. Kegiatan Ospek memang bagus, tujuan utamanya antara lain pengenalan. Biar kenal sama kampusnya, kenal dengan cara “survive” disana, dan sebagai bonus kenal dengan senior-seniornya. Nah tapi nampaknya justru bonusnya ini yang jadi tujuan utama.

Ospek jadi semacam ajang para senior untuk menunjukkan keseniorannya. Disamping juga ajang pelampiasan karena tahun sebelumnya mereka juga mengalami ospek yang serupa, intinya, balas dendam.

Dengan ritual ospek yang begitu njlimet dan bertele-tele, kasihan mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Yang belum “kenal medan”. Pastilah mereka akan kesulitan mempersiapkan barang-barang yang kebanyakan aneh dan tidak umum itu. Kita tidak bicara tentang kekerasan Ospek, karena itu beda lagi ceritanya dan saya malas membahasnya.

Ada yang bilang, ospek memang dibuat ribet agar mahasiswa terbentuk karakternya. Nggak manja, punya rasa kebersamaan, dan lain-lain. Tapi tunggu, benarkah itu cara yang benar? Ngefek-kah cara itu? Satu hal yang perlu diingat, pembentukan karakter tidak bisa dibikin instan. Tidak bisa langsung jadi dalam beberapa hari bahkan tidak sampai seminggu. Pembentukan karakter butuh proses yang panjang dan kontinyu serta metode yang benar.

Ujung-ujungnya bermunculanlah kios jualan perlengkapan Ospek. Gak perlu ribet belanja kemana-mana, semua keperluan ospek tipe apapun, dari fakultas atau jurusan manapun tersedia, siap pakai. Harga agak mahal tapi dibanding capek dan bingungnya sepertinya sebanding. Nah loh, kalau sudah begini muncul tanda tanya, tercapaikah misi ospek yang “membuat mahasiswa tidak manja”?.

Dalam sebuah kesempatan nongkrong bareng beberapa mahasiswa saya, saya bilang sambil bergurau ke mereka : Kalian semua pasti dulu pernah Ospek ya. Sebenernya, Ospek itu kalian dikerjain sama senior. Ospek itu, apapun titel dan semboyannya, asal dikelola oleh mahasiswa, ujung-ujungnya adalah ajang gagah-gagahan.

Senior kalian itu sebetulnya sama seperti kalian, sama-sama mahasiswanya, sama-sama bayar buat kuliah disini. Bahkan mungkin kalian bayar lebih mahal karena uang gedung udah naik. Jadi jangan takut, paling banter mereka gertak sambal. Jangan takut kalo dimarah-marahin, karena ya bisanya mereka cuman pasang tampang sok galak aja. Sebaliknya yang kalian pantas takutin itu ya orang yang bisa ngasih kalian nilai E. If you know WHO I mean๐Ÿ˜€

Picture courtesy of : http://www.guhsdaz.org/cms/One.aspx?portalId=754623&pageId=1258761

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , , , ,
Posted in Sekitar Kita
2 comments on “Perlukah, Ospek dengan metode bentak-bentak dan bawa barang-barang aneh?
  1. Nona Shinra says:

    Waktu saya masuk kuliah dulu, ospek di jurusan saya menyenangkan. Saat itu (dan sampai sekarang), untuk mahasiswa di jurusan saya, tidak perlu mengikuti ospek universitas dan fakultas, jadi sama sekali ga ada bentak-bentakan dan ciri khas negatif ospek lainnya.

    Katanya sih, ospek yang benar-benar berniat mengenalkan kampus dan orang-orang di dalamnya, baru berjalan di tahun 2005 atas inisiatif angkatan sebelumnya yang merasa bahwa ospek dengan bentak-bentakan dsb itu pembodohan. Jadi, saya pikir ospek yang semacam itu bisa dihentikan, asalkan panitianya niat. Sayangnya, masih banyak mahasiswa yang belum mau menelan egonya. Seperti Masnya bilang, kebanyakan masih pingin main gagah-gagahan dengan alasan supaya adik angkatan ga manja๐Ÿ™‚

    Sebaliknya yang kalian pantas takutin itu ya orang yang bisa ngasih kalian nilai E. If you know WHO I mean

    Dulu, teman lain jurusan pernah bilang kalau ga ospek nanti ga bisa lulus, padahal yang menentukan lulus atau ga kan dosen ya, lol๐Ÿ˜›

    • xrismantos says:

      Kalau ospek saya dulu, 10 hari ala militer di Akademi Angkatan Laut. Pure military, dan meski cuma 10 hari efeknya terasa sampai sekarang. Salah satunya, selesai makan sendok dan garpu diletakkan diatas piring secara sejajar menunjuk jarum jam 11๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: