Minimalis dari luar, maksimalis dari dalam

Kira-kira 5-10 tahun yang lalu, para pengembang web berlomba-lomba membuat halaman yang berfungsi kompleks namun dibuat seringan mungkin sehingga bisa mempersingkat waktu loading. Saya masih ingat ketika itu saya kagum dengan halaman inbox yahoo mail yang kompleks namun cepat sekali loadingnya, dengan kapasitas internet yang masih pakai modem telepon 64 kbps.

Seiring dengan perjalanan waktu, perkembangan teknologi web memunculkan ide untuk membuat halaman web yang tadinya statis menjadi “interaktif” layaknya aplikasi desktop. Berkat adanya Ajax (Asynchronous JavaScript and XML). Tren desain halaman web pun berubah menjadi desain yang minimalis dari segi tampilan, namun tidak minimalis sama sekali dengan “back-end”-nya. Maksimalis. Contoh kasus, kalau anda pengguna social networking, Twitter contohnya, yang sudah pakai sejak versi awal pasti menyadari ini.

Twitter versi baru dibandingkan dengan versi awal, dari segi tampilan ngga beda jauh, tapi versi baru ini loadingnya minta ampun beratnya. Apalagi kalau koneksi internetnya lambat. Sampai sekarangpun sebenarnya saya masih nyaman dengan Twitter versi lama. Sayang sekali sudah di cut-down eksistensinya oleh pengembang Twitter sendiri.

Ajax pertama kali diperkenalkan untuk menciptakan halaman web yang “semi” interaktif. Tujuan awalnya adalah memperingan beban koneksi dan transfer data saat browsing. Tak lain karena dengan Ajax maka dimungkinkan untuk melakukan update pada bagian tertentu saja pada satu halaman web untuk mendapatkan konten terbaru. Tidak seperti halaman statis web tradisional yang harus mengupdate atau loading seluruh halaman.

Namun hypo yang ditimbulkan Ajax ini mendorong para pengembang web untuk berlomba2 memanfaatkannya melebihi porsi awalnya. Misal, halaman yang bisa update real time layaknya chat room, bisa drag and drop, dan lain sebagainya. Dan parahnya, itu semua justru membuat beban loading halaman yang super berat, karena browser harus mendownload kode program JavaScript yang membengkak.

Saya sering mengalami kejadian seperti ini. Saya terbiasa, ketika browsing saya tekan tombol stop saat konten yang saya inginkan sudah bisa saya dapatkan, tanpa harus menunggu halaman komplit ter-load seluruhnya. Namun suatu waktu ternyata konten tersebut bersambung ke halaman berikutnya, saya klik tombol Next Page, dan apa yang terjadi? Tidak ada reaksi sama sekali.

Kalau sudah begitu hampir pasti bisa disimpulkan bahwa tombol Next Page ini digerakkan oleh kode JavaScript, yang kebetulan mungkin belum ter-load seluruhnya ketika saya tekan tombol Stop. Akhirnya sayapun mau tidak mau harus merefresh halaman tersebut dan menunggu hingga proses loading komplit semua, hanya untuk membuat tombol Next Page nya berfungsi. Menjengkelkan.

Halaman web yang super interaktif, dilengkapi dengan real-time update, layer-layer yang saling bertumpukan layaknya window pada aplikasi desktop, album foto yang bisa slide-show dan fading, memang terlihat keren. Namun rasanya makin lama makin tiada ampun bagi kita yang hidup di negeri sulit internet ini.

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , , ,
Posted in Teknologi
One comment on “Minimalis dari luar, maksimalis dari dalam
  1. jika ibarat mobil, mendingan mesinya bagus dari pada body nya… :mrgreen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: