Stasiun Birocrazy dan Bom Nuklir

Baiklah lagi-lagi blog ini mengalami penyakit kemangkrakan, penyakit yang sangat umum dan populer dialami oleh blog serta blogger-nya. Beberapa minggu belakangan ini waktu saya tersita untuk persiapan dan eksekusi sidang tesis. Bahkan ketika sudah selesai sidangnya (18 Juli 2011) tetap saja waktu luang belum bisa saya bebaskan dari sitaan, sibuk dengan revisi buku dan persyaratan yudisium yang selusin checklistnya.

Bahkan sekarang, saat sidang tesis telah selesai dan syarat-syarat yudisium serta wisuda sudah saya penuhi, pikiran dan fokus masih belum bisa saya dapatkan. Jadi meski waktu luang sudah berhasil saya dapatkan kembali, namun untuk menulis rasanya saya belum “sanggup”. Memangnya ada apa lagi?

Ngurusin proses bayar SPP dan Form Rencana Studi (FRS)!! Hah?

Memang aneh ya, katanya udah mau wisuda, kok masih ngurusin bayar SPP dan FRS? Bukankah 2 hal ini seharusnya udah dilakukan di awal semester?

Kronologisnya panjang, ini semua gara2 kepergian saya ke Jepang beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya pulang dari sana sekitar akhir Maret. Sedangkan pada tanggal2 itu, proses FRS dan SPP memang sudah terlambat. Akhirnya saya harus menempuh “jalur lintas birokrasi” untuk bisa menyelesaikan “keterlambatan” itu. Bikin surat permohonan ini-itu lewat Kaprodi Pascasarjana, lewat Dekan, lewat Pembantu Rektor, dan seterusnya. Repot ya? Padahal kepergian saya ke Jepang juga atas beasiswa kerjasama kampus ini dengan pemerintah Jepang. Kenapa saya masih harus repot ngurusin ini?

Karena kerepotan itulah akhirnya pada bulan April sengaja saya tinggalkan segala urusan administrasi –meskipun belum beres urusannya– dan berkonsentrasi ke pengerjaan tesis. Ternyata ini jadi bom nuklir : karena kelupaan, sampai menjelang sidang tesis urusan SPP dan FRS belum beres!!

Apa yang terjadi kemudian benar-benar tak terbayangkan. Umumnya, para pelaku TA, skripsi ataupun tesis, beberapa hari menjelang sidang pikiran adalah fokus tentang sidang itu sendiri. Mempersiapkan semuanya dengan sempurna, menenangkan pikiran dan hati biar ngga grogi saat presentasi. Sedangkan saya, 50% pikiran saya tersita untuk mikirin masalah SPP dan FRS itu. Menyiapkan surat permohonan beserta lampiran2nya, bikin janji dengan Kaprodi Pascasarjana untuk konsultasi dan minta tanda tangan. Untung saja semuanya berjalan lancar dan sayapun dinyatakan lulus sidang. Puji Tuhan…

Tidak berhenti sampai situ, tepat setelah sidang selesai, tanpa ada kesempatan untuk mengambil nafas, langsung saya berlari menyeberang koridor untuk bertemu dengan bapak Kaprodi Pascasarjana.

Bahkan keringat sisa-sisa sidang pun masih menempel di leher dan dada saya.

Dari situ, perjuangan kedua saya untuk lulus pun dimulai. Rasanya saya kecil sekali ketika harus berhadapan dengan birokrasi yang super njelimet di kampus yang saya sebut sebagai kampus di tengah rawa-rawa ini. Sekali lagi saya harus berhadapan dengan tokoh-tokoh kehormatan, seperti Dekan, Pembantu Dekan 1, Pembantu Dekan 2, Ketua Bagian Fakultas, Pembantu Rektor 1 beserta Sekretariatnya, Ketua BAUK beserta Bendaharanya. Arus surat permohonan pun saya monitor terus setiap melalui stasiun-stasiun birocrazy. Kalau tidak begini maka saya yakin urusan ngga bakal kelar-kelar.

Jadi inilah alur permohonan saya untuk melewati arus lintas birokrasi ini :

Surat permohonan kepada Kaprodi Pascasarjana –> Sekretariat Jurusan –> Dekan –> Pembantu Dekan 2 –> Pembantu Rektor 2 –> BAUK –> Bendahara Keuangan –> Surat permohonan kepada Pembantu Rektor 1 –> BAAK

Tiap melewati satu “stasiun birocrazy” surat paling tidak akan tertahan selama 2-3 hari. Jadi bayangkan tiap hari saya harus mengecek dan mendatangi kantor yang bersangkutan. Di sisi yang lain sayapun harus menyelesaikan syarat yudisium yang masih juga ngga ada habisnya. Pontang-panting kesana-kesini hanya untuk minta secoret tanda tangan. Jika ada teman yang berkomentar “mau lulus aja repotnya setengah mati”; Ketahuilah, yang saya lakukan ini mungkin 10x lebih repot daripada mahasiswa manapun yang lagi siap-siap lulus.

Begitulah. Posting ini hanya summary, kenyataannya tidak semudah yang saya tuliskan disini. Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini : Janganlah menunda suatu urusan, selesaikan apa yang bisa diselesaikan secepatnya. Kalau tidak, bersiap-siaplah jadi penjinak bom nuklir serta penjelajah stasiun birocrazy.

*Picture taken from google, edited with Photoshop (added “birocrazy” mark)

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , , ,
Posted in Catatan Kecil, Sekitar Kita
7 comments on “Stasiun Birocrazy dan Bom Nuklir
  1. Cahya says:

    Yah, mahasiswa memang seperti itu Mas🙂, nikmati saja.

  2. Iya… saya sendiri sering nulis tapi males ngedit dan nyari foto. Jadi sebulan maksimal cuma dua tulisan yg diupload d blog🙂

  3. rianadhivira says:

    waah, jadi agak mengecutkan niat buat ngelanjutin sekolah lagi.. hehehe

    • xrismantos says:

      sebenernya ngga segitu2 amat kok, kalau anda selalu berada di “jalan yang normal” hehehe…jangan takut buat lanjut sekolah lagi mas, ini cuma salah satu kasus yang memang ngga umum aja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: