Let's be precise about time

Seminggu yang lalu ada acara student trip for international student. Tujuannya ke Fukuoka dan ke pulau seberang, yaitu Kyushu, dan menginap di onsen inn, sebuah penginapan dengan onsen atau ofuro, atau sumber air panas, dan melakukan suatu kegiatan berendam yang terkenal di Jepang. Dengan biaya total 4000 yen (sekitar 400.000 rupiah) acara jalan-jalan dua hari satu malam itu bisa dibilang sangat amat murah sekali banget. Ada banyak sekali tempat yang dikunjungi, yang saya lupa masing-masing namanya. Belum menu makan 3x sehari yang sangat mewah untuk ukuran orang Indonesia ndeso yang nyangkut di Jepang seperti saya. Fasilitas di onsen inn juga ga bisa dianggap main2. Bak hotel berbintang kejora.

Tapi dari acara jalan2 yang tentu saja tak terlupakan itu, yang paling berkesan buat saya adalah ketepatan waktu yang amat mengagumkan. Saya benar2 merasakan bagaimana para panitia menyusun acara dengan tanpa kesalahan waktu sedikitpun. Berangkat jam sekian, sampai di tempat jam sekian, spending time di tempat tersebut berapa menit, berangkat lagi, sampai saat pulang pun, ga meleset barang semenit pun. Mengagumkan sekali, mengorganisir rombongan sebesar 3 bus dimana pesertanya berasal dari berbagai belahan negara di dunia.


Jadi jadwal pulang sampai di Kumamoto University adalah jam 17.30. Dan memang, tepat jam 17.30 bus sampai di kampus, diparkir didepan kantor Globalization Center, tempat dimana sehari sebelumnya kami berkumpul sebelum berangkat. Wow. Bayangkan, bagaimana mereka sampai bisa memprakirakan berapa lama perjalanan bus yang dibutuhkan dari satu tempat ke tempat lain. Tanpa meleset semenit pun. Di Indonesia, terlambat atau kecepetan setengah jam aja sudah merupakan prestasi yang mengagumkan.

Banyak sekali yang saya pelajari dari pengalaman saya selama berada disini. Saya kasihan dengan orang-orang yang selalu bilang, Jepang negara orang tidak beragama dan free sex, makanan dagingnya haram semua meski ayam atau sapi karena yang menyembelih daging bukan ahlul kitab. Well, kenapa cuma bisa melihat jeleknya saja? Cobalah berpikir obyaktif, banyak hal-hal yang sangat bagus buat kita contoh dan pelajari dari mereka.

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , ,
Posted in Catatan Kecil
6 comments on “Let's be precise about time
  1. Cahya says:

    Mungkin karena di sana memang dituntut demikian sejak dari sekolah dasar. Bayangkan saja film kartun Doraemon yang memperlihatkan betapa takutnya Nobita kalau terlambat sekolah, bahkan bisa dihukum berdiri dengan mengangkan dua ember air selama jam pelajaran, kalau di Indonesia sih sudah dibilang kekerasan pada murid๐Ÿ™‚.

  2. rismanto says:

    betul sekali. mungkin itu salah satu faktor terbesar bagaimana mereka bisa maju seperti sekarang ini. very nice.

  3. nindaaa says:

    wah saya juga mauu kesanaaaaaa T^T

  4. fahmi says:

    kayanya seru deh liat foto2 nya…๐Ÿ™‚ pengen kesana…

    Selamat sobat,anda mendapat award dari saya. Silahkan ambil award nya disini

  5. rismanto says:

    @ Nindaaa : 1 hal yang harus siap kalo disini : jangan pernah konversi yen ke rupiah kalo mau belanja, nanti ujung2nya ga jadi beli2๐Ÿ˜€

    @ Fahmi : thanks ya awardnya, langsung terbang ke TKP nih๐Ÿ˜€

  6. vany says:

    mampir, mas ris…
    liat fto2nya…
    dipaksa soalnya…..hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: