Warung Kopi : the man behind the table

Ada satu hal yang berbeda dengan kota kelahiran saya, Malang, yang saya dapati di Surabaya ini setelah saya mulai terbiasa tinggal disini. Budaya nongkrong di warung kopi. Di Malang hampir tidak ada warung sejenis ini. Ada pun paling warung lesehan di emperan ruko yang buka malam setelah toko yang dipakai tempat nebeng sudah tutup. Itu juga tengah malam biasanya sudah tutup. Ada satu brand warkop yang bisa buka 24 jam mirip seperti di Surabaya, yaitu Kayungyun. Tapi tak semua penjuru kota ada Kayungyun ini. Di Surabaya, hampir selang 100 meter anda akan menjumpai warung ini, terutama di komplek perumahan atau pertokoan. Atau terminal. Atau pasar.

Sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang warkop atau warteg atau warung giras atau angkringan, kali ini saya mau menulis tentang orang yang berada dibalik “meja” warung-warung ini.

Dilihat dari luar sepertinya pekerjaan mereka sepele. Sekedar melayani pembeli seperti membuatkan kopi, es teh, kopi susu, kopi sachetan, joshua (extra joss + susu + es), susu soda, marimas, dan kalau makanan, membuatkan mie instan, mie instan telor, dan lain2. Disamping itu juga pekerjaan “backstage” seperti cuci piring, memecah balok2 es, bersih2, menyapu puntung rokok sisa para pelanggan, dan lain sebagainya.

Namun yang membuat mereka istimewa adalah “tugas sosial” mereka. Tak sekedar cuci piring dan membuatkan minum, namun mereka juga adalah “teman”. Teman mengobrol, teman curhat, teman berbagi informasi dan hal2 lain yang bisa didapatkan dari seorang teman. Nah, yang tak bisa didapatkan dari seorang teman biasa? Dengan sabar mereka menyiapkan pesanan, sambil melayani ngobrol ngalor-ngidul dari pelanggan yang berbeda-beda. Mulai dari supir becak, supir truk, supir angkot, supir sepeda motor, sampai supir mercedes benz. (supir dalam hal ini menunjukkan status sosial, seperti contohnya supir sepeda motor mungkin setingkat mahasiswa, supir mercedes benz bisa saja setingkat boss perusahaan elit, atau mungkin memang profesinya supir pribadi hehehe…).

Warung kopi juga rata-rata buka 24 jam. Coba bayangkan bagaimana sabarnya “petugas shift malam” jaga warung dari mulai malam menjelang hingga pagi merekah, dimana orang-orang sibuk dengan selimutnya, mereka sibuk dengan gelas dan kompornya. Kantuk menyerang pun tak boleh jadi alasan untuk tidak melayani. Apalagi ketika bulan puasa seperti ini, waktu sahur pun mereka tetap ada, disambi menyantap hidangan sahurnya dengan interupsi-interupsi ketika ada pelanggan yang memesan sesuatu. Ketika siang juga tak kalah menantang, dengan suhu udara Surabaya yang mirip kamar spa, butuh penyesuaian tersendiri agar betah berada di”balik meja”.

Cukup menyita tenaga dan kesabaran, dan mungkin agak tak sebanding dengan bayaran yang diterima. Tapi merekalah teman-teman para “supir”, yang ingin rehat sejenak dari kesibukan, sekedar duduk mengobrol sambil menikmati segelas kopi dan sebatang rokok. Pelepas penat dari urusan dunia yang tak ada habisnya.

Saya pernah punya ide bareng teman2 saya kalau punya modal ingin buka warung kopi. Nah, ada yang bersedia jadi “the man behind the table?”
😀

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , ,
Posted in Sekitar Kita
One comment on “Warung Kopi : the man behind the table
  1. radesya says:

    hohoho… makana aku gag mau jadi penjaga warung kopi ah…:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: