Andai langit itu hati

Telentang, di lantai dua kost2an yang masih tanpa atap dan tembok, menatap langit di senja pukul 6 sore. Sesuatu yang mulai sering saya lakukan belakangan ini. Tentu, jika hari tidak hujan. Karena memang musimnya lagi hujan. Cukup langka saat-saat seperti ini karena biasanya jam segini hujan turun deras, sampai malam. Dan langit pun….

…nampak kosong, biru keabu-abuan, tanpa mendung. Rasanya iri melihatnya bisa sekosong itu. Andai hati ini bisa menirukan kekosongannya. Andai manusia memiliki sebuah switch untuk memilih untuk tidak mengingat sesuatu, pasti hidup akan lebih mudah. Hati ini sudah terlalu banyak terisi beban-beban yang memberatkan. Sulit sekali untuk melakukan yang lain sementara sesuatu didalam terus bergejolak meminta sebagian besar kapasitas otak untuk memprosesnya. Mengapa manusia bisa melupakan hal yang seharusnya diingat namun terus teringat hal yang seharusnya dilupakan. Mungkin memang benar, semakin keras usaha untuk melupakan sesuatu, semakin dalam sesuatu tersebut terpatri didalam otak.

Ough…

Malam semakin beranjak menggantikan senja. Ternyata langit tak selamanya dapat kosong. Bintang-bintang mulai tampak mengisi hamparannya dengan kerlipnya. Tak ketinggalan lembar-lembar mendung mulai menampakkan diri tipis demi tipis. Ketika bulan muncul, terlihatlah kebodohan. Kebodohan untuk meraih sesuatu yang tak mungkin didapatkan. Seperti meraih bulan yang jauh disana. Ahh…andai saja bulan itu dekat. Ahh…baru kemarin rasanya saya bisa meraihnya, rasanya saya sudah bisa terbang setinggi itu hingga ujung jari ini bisa menyentuhnya, namun barusaja saya tersadar bahwa bulan itu tetap jauh. Dialah yang mendekat sejenak dan membiarkan saya menyentuhnya, sedikit, melalui kulit ari tipis pada ujung-ujung jari telunjuk, tengah, dan manis. Kemudian dia kembali ke tempatnya singgah, nun jauh diatas sana, cukup jauh hingga saya hanya dapat melihat pantulan cahayanya yang putih lembut.

Andai hati ini seperti langit. Seolah dia memiliki segalanya, bintang, bulan, mendung, matahari. Namun ternyata dia tetap kosong. Dia hanya menampilkan apa yang ada dibaliknya, membiarkannya datang dan pergi sesuka hatinya, dan kembali kosong jika tak ada yang berminat untuk singgah. Sungguh jika hati ini seperti langit, tak akan ada luka yang lama membekas, tak ada pikiran yang terus meronta.

Ah….ternyata hati memang bukan langit.
Berharap dapat meraih bulan pun hanya menorehkan seberkas sayatan perih. Hehehe…. Betapa bodohnya diri ini.

Tapi kenapa ya dia mau datang sejenak, meski akhirnya pergi lagi? Akankah dia datang lagi esok?

Tulisanku semakin ga jelas…… : )

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Tagged with: , ,
Posted in Catatan Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: