Mengapa jeruji itu selalu datang

Hari ini jadwalku begitu sempurna. Sudah kubayangkan saat-saat menggembirakan keluargaku akan bertemu dengannya. Perjanjian pun disepakati untuk bertemu jam 15.00 disebuah rumah makan. Acara pun diatur sedemikian hingga agar kami tepat waktu datang ke tempat pertemuan. Semuanya tampak begitu lancar hingga dalam hati aku sedikit ragu, tak pernah semulus ini sebelumnya. Namun aku berdoa semoga tak terjadi apa-apa hingga semuanya berjalan sesuai rencana.

Namun yang kukhawatirkan benar-benar terjadi. Beberapa jam sebelum waktu pertemuan datang, dia memberi kabar yang sunguh diluar dugaan. Kabar itu begitu menyesakkan. Kabar yang membuat kami semua kecewa, segampang itukah dia meninggalkan janji, hanya karena “lupa”. Padahal keluargaku sudah jauh-jauh datang 89 kilometer jauhnya dari kota sebelah dan telah bersusah payah mengatur waktu agar pertemuan itu terlaksana. Semuanya serasa dianggap remeh. Aku sungkan pada bapak ibu dan adikku, yang tadinya menggebu sekarang melesu.

Tapi kami coba berpikir positif. Karena saat itu ternyata dia ada sesuatu urusan keluarganya, kami coba untuk menetralkan diri. Kami tidak memaksakan dia untuk memenuhi janji pertemuan karena memang kepentingan keluarganya harus lebih utama. Dalam hati aku ingin agar bagaimanapun pertemuan ini harus terlaksana, namun aku harus menahan diri karena kepentingan orang tuanya jelas lebih diatas segalanya. Apalagi dia telah melupakan jadwal pertemuan ini kalau tidak diingatkan. Akupun memberi kesempatan dia untuk memilih, mana yang akan lebih dia prioritaskan.

Akan tetapi, sungguh diluar dugaan. Kesempatan memilih yang kuberikan justru disalah artikan sebagai sebuah keputusan yang plin-plan. Tadinya ingin ketemu, sekarang malah nyuruh ikut urusan keluarganya. Padahal sama sekali bukan itu yang kumaksudkan. Apa daya, segala penjelasan telah ditolak olehnya, seolah sebuah jeruji menghalangiku untuk memberi pengertian padanya. Akhirnya pertemuan pun batal…dengan segudang kesalahpahaman yang tak akan ada habisnya.

Sudahlah, kami semua akhirnya mengalah. Hanya yang Maha Tahu yang mengerti, apa, siapa dan mengapa.

Aku tetap kangen dia, ingin bertemu…

Masih berharap, agar dia tidak pergi, tetap disini. Meski harapan tak lebih hanyalah tiupan angin sepoi yang tak akan meruntuhkan genggaman akar pepohonan yang telah begitu kuat mencengkeram keputusannya. Namun harapan dan doa…itulah yang bisa kulakukan saat ini…

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Posted in Catatan Kecil
2 comments on “Mengapa jeruji itu selalu datang
  1. radesya says:

    Bertemu calonnya ya kak?
    Kakak yang sabar ya…
    Aku doakan semoga kakak bahagia..

  2. RenXe says:

    hahaha…
    calon apa ra…ra….
    ada2 saja kamu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: