Delapan musim

Malam ini udara begitu dingin. Namun tak seberapa dibanding rasa dingin yang ada dalam dadaku. Seolah beribu bilah es berjatuhan menghempas satu demi satu menembus rongga dada dan meleleh, kemudian disusul bilah lainnya, begitu seterusnya hingga kurasakan diriku lelah…

Kemudian sesuatu bergejolak, menendang-nendang tanpa henti. Antara perasaan sedih, kesal, gembira, sepi, hampa, senang, putus asa, semuanya mendesak ingin keluar dari lubang-lubang gelap yang bermuara dari hati yang telah bebal. Ingin aku keluar dari semua ini, namun tak bisa, sesuatu mengikat langkah kakiku hingga tak bisa kugerakkan.

Segaris pelangi yang indah, demikian berwarna-warni, untaiannya memancar dari ujung penjuru angin ke ujung yang lainnya mengisi kosongnya langit. Akupun terduduk di rerumputan, memandangnya tanpa henti. Ingin kulukis hingga ku bisa jadikan abadi, namun jari jemariku tak sanggup menggerakkan kuas yang kugenggam dengan erat. Ingin kuraih hingga ku dapat rasakan diriku masuk kedalam warna-warna yang sempurna, menghirupnya masuk kedalam butiran-butiran hemoglobin dan beredar ke seluruh tubuhku bersama dengan mengalirnya darah ke setiap pembuluh dan sel-sel organku. Pelangi itu begitu sempurna, melengkung dengan anggunnya tanpa cela.

Aku si bungkuk yang merindukan bulan. Namun aku bukan si bungkuk yang pasrah. Aku menumpuk bebatuan satu demi satu, bebatuan yang kecil-kecil karena aku tak sanggup membawa yang besar. Kukumpulkan hingga suatu hari nanti akan cukup tinggi untuk kupanjat dan meraih rembulan yang begitu kudambakan. Aku melihat nun jauh disana sang raksasa yang tinggi besar dengan satu tangannya mengelus rembulan itu hingga sinarnya pun sebentar-sebentar hilang dari pandanganku. Namun aku tahu pasti rembulan masih ada disana, dan akan tetap disana, hingga aku dapat menyentuhnya meski saat itu aku telah begitu lemah, dan tanganku pun terkulai. Dengan sisa tenaga yang ada menatap cahayanya terbias air mata yang menggenang, akan kuangkat tanganku, dan menggapainya…

Saat yang ditunggu namun tak diinginkan pun segera tiba. Akankah pelangi pergi menuju taman penuh harapan dan impian? Dapatkah dia bersinar dengan anggun seperti yang kulihat saat ini? Akankah dia kembali hingga ku dapat menatapnya lagi diatas rerumputan yang kududuki saat ini?

Cahaya rembulan itu tak pergi, hanya sinarnya yang melanglang buana. Suatu saat nanti akan kulihat kembali sinar yang teramat cerah, menerangi malam2 pekat yang akan kulalui, 8 musim silih berganti akan menjadi saksi bisu penantian ini…

I'm a wanderer of the seven kingdoms.

Posted in Umum
2 comments on “Delapan musim
  1. radesya says:

    Rembulan itu yang kau rindu kak? Berusahalah menggapainya, menitilah di jalan pelangiku, biar ku antar kakak menggapai rembulan itu, yang penting kakak harus semangat dan pantang menyerah ya…

  2. RenXe says:

    makasih ya ra…🙂
    km jg semangat dan pantang menyerah!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome!
Hi! My name is Ridwan. This is my blog, I hope you enjoy it. You can also find me there:



Use Google Chrome
Community




Tugupahlawan - Komunitas Blogger Surabaya

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
Archives
Follow Xrismantos on WordPress.com
%d bloggers like this: